Urutan Ibadah Haji dari Awal hingga Akhir
Berdasarkan buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah 2026 yang diterbitkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, berikut urutan ibadah haji dari awal hingga akhir:
1. Ihram di Miqat
Ihram berasal dari kata يحرم - احراما أحرم yang berarti masuk dalam keharaman. Sementara menurut istilah, ihram berarti niat masuk (mengerjakan) ibadah haji atau umrah dengan mengharamkan hal-hal yang dilarang selama berihram.
Pada dasarnya, ihram ditandai dengan mengenakan pakaian ihram. Bagi jemaah haji laki-laki memakai dua helai kain ihram, satu kain disarungkan dan satu kain lagi diselendangkan di kedua bahu dengan menutup aurat.
Sementara bagi jemaah perempuan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan kedua tangan dari pergelangan hingga ujung jari, baik telapak tangan maupun punggung tangan.
Tempat melakukan ihram disebut miqat. Pada dasarnya, miqat terbagi menjadi dua jenis, yakni miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani adalah batas waktu melaksanakan haji, sementara miqat makani adalah batas tempat untuk memulai ihram.
Sunah-sunah sebelum ihram antara lain:
- Mandi
- Memakai wangi-wangian pada tubuhnya
- Memotong kuku, merapikan jenggot, mencukur rambut ketiak dan rambut kemaluan.
- Memakai kain ihram
- Salat sunah ihram 2 rakaat
Selain hal-hal yang disunahkan, terdapat larang-larangan yang tidak boleh dilakukan oleh jemaah haji ketika telah berihram, antara lain:
- Memakai wangi-wangian, kecuali sudah dipakai sebelum niat haji
- Memotong kuku dan mencukur, atau mencabut bulu rambut dan badan
- Memburu dan membunuh binatang, kecuali binatang yang membahayakan
- Memakan hasil buruan
- Memotong kayu-kayuan dan mencabut rumput
- Menikah, menikahkan, atau meminang perempuan
- Bersetubuh, bercumbu, mencium, merayu, dan hal-hal yang mendatangkan syahwat
- Mencaci dan bertengkar
- Melakukan kejahatan dan maksiat
- Memakai pakaian yang dicelup dengan pewangi
Setelah selesai melakukan ihram, jemaah haji dianjurkan untuk perbanyak membaca kalimat talbiyah. Bacaan ini mulai dibaca setelah niat ihram dari miqat.
Berikut bacaan talbiyah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ
Labbaykallāhumma labbayk, labbayka lā syarīka laka labbayk, innal-ḥamda wan-ni'mata laka wal-mulk, lā syarīka lak.
Artinya: "Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu."
2. Wukuf di Arafah
Secara bahasa wukuf berarti berhenti. Sementara menurut istilah, wukuf adalah berhenti atau berdiam diri di Arafah dalam keadaan ihram dalam waktu antara tergelincir matahari pada 9 Zulhijah hingga terbit fajar hari nahar 10 Zulhijah.
Ketika memasuki tanah Arafah, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa berikut:
اللَّهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ تُبَاهِي بِهِ الْيَوْمَ مَلَائِكَتَكَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
Allāhumma ilaika tawajjahtu, wa bika'taṣamtu, wa 'alaika tawakkaltu. Allāhummaj'alnī mimman tubāhī bihil-yauma malā'ikataka innaka 'alā kulli syai'in qadīr.
Artinya: "Ya Allah, hanya kepada-Mu aku menghadap, hanya dengan-Mu aku berpegang teguh dan kepada-Mu aku berserah diri. Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang yang hari ini Engkau banggakan di hadapan Malaikat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu,".
Selain doa di atas, terdapat doa yang dapat jemaah haji panjatkan ketika melihat Jabal Rahmah. Berikut bacaan doanya:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ وَأَعْطِنِي سُؤْلِي وَوَجَّهُ لِيَ الْخَيْرَ أَيْنَمَا تَوَجَّهْتُ. سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Allāhummaghfir lī, wa tub 'alayya, wa a'ṭinī su'lī, wa wajjih liya-l-khaira ainamā tawajjahtu. Subḥānallāhi wal-ḥamdulillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: "Ya Allah, ampunilah aku, terimalah taubatku, penuhilah segala permintaanku dan hadapkanlah kebaikan kepadaku di mana pun aku menghadapkan diri. Maha Suci Allah, segala puji hanya bagi Allah dan tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Agung,".
Wukuf di Arafah adalah rukun utama haji dan tidak dapat diganti dengan denda (dam). Selama wukuf, jemaah haji mengisi waktu dengan memperbanyak zikir, istighfar, sholawat, dan doa sesuai sunah Rasulullah saw..
3. Mabit di Muzdalifah
Mabit di Muzdalifah adalah bermalam atau beristirahat di Muzdalifah pada 10 Zulhijah setelah pelaksanaan wukuf di Arafah. Hukum mabit di Muzdalifah adalah wajib. Mabit dianggap sah jika jemaah haji berada di Muzdalifah melewati tengah malam, walau ia hanya mabit sesaat.
Muzdalifah termasuk tempat mustajab untuk berdoa, karenanya pada saat mabit di muzdalifah, jemaah haji dapat membaca talbiyah, zikir, istighfar, berdoa, atau membaca Al-Qur'an.
Berikut adalah bacaan doa ketika sampai di Muzdalifah:
اللَّهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُزْدَلِفَةُ جُمِعَتْ فِيْهَا أَلْسِنَةٌ مُخْتَلِفَةٌ تَسْأَلُكَ حَوَائِجَ مُؤتنفه فَاجْعَلْنِي مِمَّنْ دَعَاكَ فَاسْتَجَبْتَ لَهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَيْتَهُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ . اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْأُخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allāhumma inna hādzihī Muzdalifatu jumi'at fīhā alsinatun mukhtalifatun, tas'aluka ḥawā'ija mu'tanifah, faj'alnī mimman da'āka fastajabta lahū, wa tawakkala 'alaika fakafaitahū, yā arḥamar-rāḥimīn. Allāhumma rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fīl-ākhirati ḥasanah, wa qinā 'adzāban-nār.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya ini Muzdalifah telah berkumpul bermacam-macam bahasa yang memohon kepada-Mu keperluan yang beraneka ragam, maka masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang memohon kepada-Mu, lalu Engkau penuhi permintaannya, yang berserah diri pada-Mu, lalu Engkau lindungi dia, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka,".
Jemaah haji juga dapat membaca doa yang dipanjatkan Imam an-Nawawi ketika di Muzdalifah, berikut lafadznya:
اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِي فِي هَذَا الْمَكَانِ جَوَامِعَ الْخَيْرِ كُلِهِ، وَأَنْ تَصْلَحَ شَأْنِي كُلُّهِ، وَأَنْ تَصْرِفَ عَنِّي الشَّرَّ كُلَّهُ، فَإِنَّهُ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ غَيْرُكَ وَلَا يَجُودُ بِهِ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma innī as'aluka an tarzuqanī fī hādzal-makāni jawāmi'al-khairi kullih, wa an taṣliḥa sya'nī kullah, wa an taṣrifa 'annis-syarra kullah, fa-innahū lā yaf'alu dzālika ghairuka wa lā yajūdu bihī illā anta.
Artinya: "Ya Allah, aku mohon kepada-Mu agar diberi seluruh kebaikan di tempat ini. Engkau perbaiki keadaanku dan Engkau tolak dariku segala kejahatan. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menjadikan semua itu setelah Engkau dan tidak ada yang dapat memperbaikinya selain Engkau,".
4. Melontar Jumrah
Melontar jumrah adalah melontar batu kerikil ke arah jamrah sughra, wustha, dan kubra dengan niat mengenai objek jumrah (marma) dan kerikil masuk ke lubang marma. Melontar jumrah dilakukan pada hari nahar dan hari tasyrik.
Hukum melempar jumrah adalah wajib, bila seseorang tidak melakukannya, maka dikenakan denda (dam). Berikut tata cara melempar jumrah:
- Kerikil mengenai marma dan masuk ke lubang
- Melontar setiap jumrah dengan tujuh kerikil dan setiap kali lontaran satu kerikil
- Melontar jamarat dengan urutan yang benar, mulai jamrah sughra, wustha, dan kubra
Setelah melakukan tujuh kali lontaran kerikil pada setiap jamrah, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa berikut:
بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرُ
Bismillāhi Allāhu Akbar.
Artinya: "Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar."
Atau bisa juga membaca doa berikut:
اللهُ أَكْبَرُ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَنِ، وَرَغَمِ الشَّيْطَانِ اللهم تَصْدِيقاً بِكِتَابِكَ وَاتَّبَاعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ حَبًّا مَبْرُورًا وَذَنْبًا مَغْفُورًا وَعَمَلاً مَشْكُورًا
Allāhu akbaru 'alā ṭā'atir-raḥmān, wa raghamis-syayṭān. Allāhumma taṣdīqan bikitābika wattibā'an lisunnati nabiyyika. Allāhummaj'alhu ḥajjan mabrūran wa dzanban maghfūran wa 'amalan masykūrā.
Artinya: "Allah Maha Besar atas ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih, dan kutukan bagi setan, ya Allah, dengan membenarkan kitab-kitab-Mu dan mengikuti sunah Nabi-Mu. Jadikanlah ibadah haji ini haji yang mabrur, dosa-dosa terampuni, dan amalan yang diterima,".
5. Tahallul Awwal
Dalam rangkai ibadah haji, bercukur atau tahallul merupakan salah satu rukun haji, khususnya bagi mazhab Syafi'i. Tidak sempurna haji seseorang jika tidak mencukur rambut. Sedangkan menurut ketiga mazhab lainnya, tahallul wajib dan dikenakan denda jika tidak melakukannya.
Dalam rangkaian ibadah haji, lazimnya tahallul dilakukan pada 10 Zulhijah setelah jemaah melempar jumrah kubra. Inilah yang disebut sebagai tahallul awwal. Terdapat doa yang dapat jemaah baca ketika tahallul, berikut bacaannya:
الْحَمْدُ اللَّهِ عَلَى مَا هَدَانَا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى مَا أَنْعَمَنَا بِهِ عَلَيْنَا. اللَّهُمَّ هَذِهِ نَاصِيَتِي فَتَقَبَّلْ مِنِّي وَاغْفِرْ ذُنُوبِي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُحَلِّقِينَ وَلِلْمُقَصِّرِينَ. يَا وَاسِعَ الْمَغْفِرَةِ. اللهُمَّ اثْبُتْ لِي بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةً وَامْحُ عَنِّي بِهَا سَيِّئَةً وَارْفَعْ لِي بِهَا عِنْدَكَ دَرَجَةً
Alḥamdu lillāhi 'alā mā hadānā, wal-ḥamdu lillāhi 'alā mā an'amanā bihī 'alainā. Allāhumma hādzihī nāṣiyatī fataqabbal minnī waghfir dzunūbī. Allāhummaghfir lil-muḥalliqīna wa lil-muqaṣṣirīn. Yā wāsi'al-maghfirah. Allāhummathbut lī bikulli sya'ratin ḥasanah, wamḥu 'annī bihā sayyi'ah, warfa' lī bihā 'indaka darajah.
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi petunjuk kepada kami dan segala puji bagi Allah atas segala yang telah Allah karuniakan kepada kami. Ya Allah, ini ubun-ubunku, terimalah amal ibadahku dan ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah ampunilah dan sayangilah orang-orang yang mencukur dan memendekkan rambutnya, wahai Tuhan yang Maha Luas ampunan-Nya. Ya Allah tetapkanlah untukku setiap helai rambut kebajikan dan hapuskan untuk-ku setiap helai rambut keburukan dan tinggikan derajatku di sisi-Mu,".
Setelah selesai melakukan tahallul, jemaah dapat melanjutkannya dengan membaca doa berikut:
الْحَمْدُ للهِ الَّذِي قَضَى عَنَّا نُسُؤْكَنَا اللَّهُمَّ زِدْنَا إِيْمَانًا وَيَقِيْنَا وَتَوْفِيقًا وَعَوْنًا، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِأَبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَالْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ
Alḥamdu lillāhillażī qaḍā 'annā nusukanā. Allāhumma zidnā īmānan wa yaqīnan wa taufīqan wa 'aunā, waghfir lanā wa li ābā'inā wa ummahātinā wal-muslimīna ajma'īn.
Artinya: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami, Ya Allah tambahkanlah kepada kami iman, keyakinan, bimbingan dan pertolongan dan ampunilah kami, kedua orang tua kami dan seluruh kaum muslimin,".
6. Tawaf Ifadah
Secara bahasa tawaf berarti mengelilingi. Sedangkan menurut istilah berarti mengelilingi Baitullah sebanyak tujuh kali putaran dengan posisi Ka'bah berada di sebelah kiri, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad lagi.
Tawaf ifadah termasuk dalam jenis tawaf rukun, sehingga jemaah haji wajib untuk melakukannya. Pada saat memulai tawaf, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa ma'tsur pada saat memulai tawaf setelah istilam sambil mengangkat tangan. Berikut bacaan doanya:
بسم الله والله أكبر، اللهم إيمانًا بِكَ وتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ، ووَفَاءَ بِعَهْدِكَ، واتَّبَاعًا لسُنَّةِ نَبِيِّكَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم
Bismillāhi wallāhu akbar, Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bikitābika, wa wafā'an bi'ahdika, wattibā'an lisunnati nabiyyika sayyidinā Muḥammadin ṣallallāhu 'alaihi wa sallam.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah, aku beribadah atas dasar iman kepada-Mu, membenarkan Kitab-Mu (Al-Qur'an), menepati janji kepada-Mu, dan karena mengikuti Sunnah Nabi-Mu, junjungan kami Muhammad saw.,".
7. Sai
Secara bahasa, sai berarti berjalan atau berusaha. Sedangkan menurut istilah, sai adalah berjalan dari Shafa ke Marwah, bolak-balik sebanyak tujuh kali yang dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah, dengan syarat dan cara-cara tertentu.
Sai termasuk rukun haji yang harus dilakukan. Pada saat melakukan sai, terdapat rangkaian doa yang dapat jemaah haji amalkan, salah satunya adalah doa ketika hendak mendaki Bukit Shafa sebelum memulai sai. Berikut bacaan doanya:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ وَرَسُوْلُهُ إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللهِ، فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا، وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ. أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُوْلُهُ.
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm. Innaṣ-ṣafā wal-marwata min sya'ā'irillāh, faman ḥajjal-baita awi'tamara falā junāḥa 'alaihi ay yaṭṭawwafa bihimā, wa man taṭawwa'a khairan fa'innallāha syākirun 'alīm. Abda'u bimā bada'allāhu bihī wa rasūluh.
Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sai antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka Allah Maha Mensyukuri, Maha Mengetahui. Aku memulai sai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memulai,".
8. Tahallul Kedua (Tsani)
Tahallul tsani adalah keadaan ketika seorang jemaah telah melakukan tiga kegiatan haji, yaitu melontar jumrah aqabah (kubra), memotong dan mencukur rambut, tawaf ifadah, serta sai. Setelah tahallul tsani, jemaah telah terbebas dari semua larangan ihram, termasuk larangan untuk bersetubuh dengan pasangannya.
9. Mabit di Mina
Mabit di Mina adalah bermalam pada malam hari di tanggal 11 hingga 12 Zulhijah bagi nafar awal dan bermalam pada malam hari di tanggal 11 hingga 13 Zulhijah bagi nafar tsani. Hukum mabit di Mina adalah wajib.
Sesampainya di Mina, para jemaah dianjurkan untuk membaca doa, berikut bacaan doanya:
اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنَى فَامْنُنْ عَلَيَّ بِمَا مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِيَائِكَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ
Allāhumma hādzihī Minā famnun 'alayya bimā mananta bihī 'alā auliyā'ika wa ahli ṭā'atik.
Artinya: "Ya Allah, tempat ini adalah Mina, anugerahilah aku apa yang Engkau telah anugerahkan kepada orang-orang yang dekat dan taat kepada-Mu,".
Selain bacaan doa di atas, jemaah haji juga dapat memperbanyak bacaan takbir, berikut lafaznya:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar kabīrā, wal-ḥamdu lillāhi kaṡīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā. Lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, mukhliṣīna lahud-dīna walau karihal-kāfirūn. Lā ilāha illallāhu waḥdah, ṣadaqa wa'dah, wa naṣara 'abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar.
Artinya: "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan semua pujian bagi Allah Yang Maha Besar, Maha Suci Allah pada waktu siang dan malam. Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Satu, tiada sekutu bagi-Nya dengan memurnikan ibadah semata kepada-Nya, sekalipun orang-orang kafir benci. Tiada Tuhan selain Allah dengan keesaan-Nya, Tuhan yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan sendiri musuh-musuhnya-Nya, tiada Tuhan kecuali Allah dan Allah Maha Besar,".
10. Tawaf Wada
Tawaf wada merupakan penghormatan terakhir kepada Baitullah sebelum meninggalkan Makkah. Pada saat melakukan tawaf wada, jemaah haji dianjurkan untuk membaca doa berikut di setiap putarannya:
بِسْمِ اللهِ اللهُ أَكْبَرُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إلا الله وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ وَالصَّلاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ إِيْمَانًا بِكَ وَتَصْدِيقًا بِكِتَابِكَ وَاتَّبَاعًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ۚ إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ. يَا مُعِيْدُ أَعِدْنِي يَا سَمِيْعُ أَسْمِعْنِي يَا جَبَّارُ اجْبُرْنِي يَا سَتَارُ اسْتُرْنِي يَا رَحْمَنُ ارْحَمْنِي يَا رَدَّادُ ارْدُدْنِي إِلَى بَيْتِكَ هُذَا وَارْزُقْنِيَ العَوْدَ ثُمَّ العَوْدَ كَرَاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ تَائِبُونَ عَابِدُونَ سَائِحُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ. صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ اللَّهُمَّ احْفَظْنِي عَنْ يَمِينِي وَعَنْ يَسَارِي وَمِنْ قُدَّامِي وَمِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَمِنْ فَوْقِي وَمِنْ تَحْتِي حَتَّى تُوَصِّلَنِي إِلَى أَهْلِي وَبَلَدِي اللَّهُمَّ هَوَنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ وَأَطْوِ لَنَا الأَرْضَ، اللهم أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ أَصْحِبْنَا فِي سَفَرِنَا فَاخْلُفْنَا فِي أَهْلِنَا ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَيَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Bismillāhi wallāhu akbar. Subḥānallāhi wal-ḥamdulillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil-'aliyyil-'aẓīm. Waṣ-ṣalātu was-salāmu 'alā rasūlillāhi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Allāhumma īmānan bika wa taṣdīqan bikitābika wattibā'an lisunnati nabiyyika Muḥammadin ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Innal-ladzī faraḍa 'alaikal-qur'āna larādduka ilā ma'ād. Yā Mu'īdu a'idnī, yā Samī'u asmi'nī, yā Jabbāru-jburnī, yā Sattāru-sturnī, yā Raḥmānu-rḥamnī, yā Raddādu-rdudnī ilā baitika hādzā warzuqniyal-'auda tsummal-'auda karrātin ba'da marrāt, tā'ibūna 'ābidūna sā'iḥūna lirabbinā ḥāmidūn. Ṣadaqallāhu wa'dah, wa naṣara 'abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah. Allāhumma-ḥfaẓnī 'an yamīnī wa 'an yasārī wa min quddāmī wa miw-warā'i ẓahrī wa min fauqī wa min taḥtī ḥattā tuwaṣṣilanī ilā ahlī wa baladī. Allāhumma hawwin 'alainas-safara waṭwi lanal-arḍ. Allāhumma antas-ṣāḥibu fis-safari wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma aṣḥibnā fī safarinā fakh-lufnā fī ahlinā, yā arḥamar-rāḥimīna wa yā rabbal-'ālamīn.
Artinya: "Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Maha Suci Allah dan segala puji hanya kepada Allah, tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Besar, tiada daya (untuk meraih manfaat) dan tiada kekuatan (untuk menolak bahaya), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Salawat dan salam bagi junjungan Rasulullah saw.. Ya Allah, aku datang kemari karena iman kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu, memenuhi janji-Mu dan karena mengikuti sunah Nabi-Mu Muhammad saw.. Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan Engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa mengembalikan, kembalikan aku ke tempatku. Wahai Tuhan Yang Maha Mendengar, kabulkanlah permohonanku. Wahai Tuhan Yang Maha Memperbaiki, perbaikilah aku. Wahai Tuhan Yang Maha Pelindung, tutuplah aibku. Wahai Tuhan Yang Maha Kasih Sayang, sayangilah aku. Wahai Tuhan Yang Kuasa Mengembalikan, Maha kembalikan aku ke Ka'bah ini dan berilah aku rezeki untuk kembali lagi berkali-kali dalam keadaan bertaubat, beribadah, dan berpuasa sambil memuji. Maha benar Allah dengan janji-Nya, menolong hamba-Nya, yang menghancurkan sendiri musuh-musuh-Nya. Ya Allah, peliharalah aku dari sisi kanan dan kiri, depan dan belakang, dari sebelah atas dan bawah sampai Engkau mengembalikan aku kepada keluarga dan tanah airku. Ya Allah, permudahkanlah perjalanan kami, lipatlah bumi untuk kami. Ya Allah, Engkau Pengiring perjalanan dan Pengganti dalam keluarga. YaAllah, sertailah perjalanan kami dan gantilah kedudukan kami dalam keluarga yang ditinggal, wahai Tuhan Yang Maha Pengasih melebihi segala pengasih, wahai Tuhan Yang Memelihara seluruh alam,".

13 hours ago
16

















































