Jakarta -
Tidak semua kisah di penghujung usia berakhir dengan duka yang sunyi. Di balik rapuhnya tubuh dan keterbatasan yang datang seiring waktu, sering kali tersimpan cerita-cerita sederhana yang justru menyentuh hati dan kesan mendalam.
Seperti beberapa kisah para lansia berusia sekitar 90 tahun berikut ini. Di tengah kondisi yang tidak mudah, mereka tetap menunjukkan keteguhan hati, keikhlasan, bahkan senyum yang menghangatkan. Cerita-cerita ini bukan hanya mengharukan, tetapi juga membuka mata tentang makna hidup yang sering kali luput disadari. Berikut ulasannya.
1. Suzanne Hoylaerts
Kisah pertama datang dari Belgia dan sempat menyentuh banyak orang di awal pandemi Covid-19. Seorang nenek berusia 90 tahun bernama Suzanne Hoylaerts memilih keputusan yang tidak mudah saat dirinya terinfeksi virus corona.
Melansir dari World of Buzz dan diberitakan kembali oleh Fox News, Suzanne mulai merasa tidak enak badan pada 20 Maret 2020. Nafsu makannya menurun, bahunya terasa berat, hingga akhirnya mengalami sesak napas. Awalnya, ia mengira kondisi tersebut hanya akibat kelelahan biasa. Namun, keadaan semakin memburuk hingga sang putri, Judith, membawanya ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Dokter menemukan bahwa kadar oksigen dalam tubuh Suzanne cukup rendah. Ia kemudian dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif. Namun, situasi saat itu tidak mudah. Pembatasan ketat akibat pandemi membuat Judith tidak bisa menemani sang ibu di dalam ruang perawatan.
Di tengah kondisi yang genting, Suzanne justru mengambil keputusan yang mengejutkan. Ia menolak penggunaan ventilator, alat bantu pernapasan yang sangat krusial bagi pasien Covid-19 dengan gejala berat. Ia memilih agar alat tersebut diberikan kepada pasien lain yang lebih muda dan memiliki peluang hidup lebih besar.
Keputusan itu datang bukan tanpa alasan. Dalam kondisi sadar, Suzanne ingin memberikan kesempatan bagi orang lain untuk bertahan. Sikapnya yang penuh empati ini membuat banyak orang terenyuh. Di detik-detik terakhir hidupnya, ia tetap menunjukkan ketenangan dan ketulusan yang sulit dilupakan.
2. Nenek Mas'udah
Kisah berikutnya datang dari Bali, tepatnya di Desa Cupel, Kabupaten Jembrana. Di sebuah rumah sederhana, tinggal seorang nenek bernama Mas'udah yang diperkirakan telah berusia sekitar 90 tahun.
Melansir dari Newsyess, kondisi fisik nenek Mas'udah sudah tidak lagi seperti dulu. Penglihatannya mulai kabur, bahkan terkadang ia kesulitan mengenali orang-orang di sekitarnya. Pendengarannya pun menurun, sehingga komunikasi harus dilakukan dengan suara yang lebih keras. Untuk berjalan saja, ia perlu dipapah oleh cucunya.
Meski hidup dalam keterbatasan, nenek Mas'udah tidak sepenuhnya sendiri. Ia tinggal bersama anak perempuan dan cucunya yang setia merawatnya. Kehangatan keluarga menjadi salah satu hal yang membuat hari-harinya tetap berjalan, meski perlahan.
Kisahnya semakin menyentuh saat mendapat perhatian dari pihak luar. Pimpinan PT SMS, Ngakan Yess, datang memberikan bantuan sebagai bagian dari program berbagi. Ia menyampaikan bahwa sebagian pendapatan perusahaan dialokasikan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, termasuk lansia.
Bagi nenek Mas'udah, bantuan yang didapat tersebut bukan sekadar materi. Ada rasa diperhatikan dan dihargai yang membuatnya tetap bisa tersenyum di tengah kondisi yang tidak mudah. Kisah ini menjadi pengingat bahwa perhatian kecil bisa membawa kebahagiaan besar bagi mereka yang membutuhkan.
3. Air Mata Syukur Mbah Dasmi
Dari Jawa Tengah, ada kisah Mbah Dasmi, seorang nenek berusia sekitar 90 tahun asal Desa Karangsari, Kecamatan Pulosari, Pemalang. Hidupnya jauh dari kata mudah, bahkan sejak enam tahun terakhir ia harus menjalani hari-hari dalam kondisi lumpuh.
Keseharian Mbah Dasmi hanya dihabiskan di atas kursi roda dan tempat tidur. Ia tidak lagi bisa beraktivitas seperti orang lain. Kondisi semakin berat ketika menantunya, yang menjadi tulang punggung keluarga, juga mengalami stroke dan tidak bisa bekerja.
Dalam keterbatasan itu, Mbah Dasmi tetap bertahan dengan bantuan sang putri. Ia harus rutin mengonsumsi obat untuk meredakan sakit yang dideritanya. Meski hidup serba terbatas, ia tidak kehilangan rasa syukur.
Saat menerima bantuan dari program Kartu Jateng Sejahtera yang diinisiasi Ganjar Pranowo, Mbah Dasmi tak kuasa menahan air mata. Bantuan tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, terutama pengobatan. Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan, rasa syukur Mbah Dasmi menjadi gambaran betapa hal kecil bisa berarti besar bagi seseorang.
4. Nenek Asih
Kisah yang menutup daftar ini datang dari Lembang, Jawa Barat. Seorang nenek bernama Asih, yang juga berusia sekitar 90 tahun, hidup seorang diri di rumah sederhana di Kampung Suntenjaya.
Melansir dari laporan lapangan, momen haru terjadi saat Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Agus Subiyanto tengah dalam perjalanan meninjau vaksinasi pada 23 September 2021. Ia tiba-tiba menghentikan kendaraannya setelah melihat sosok nenek yang tampak lemah duduk di teras rumahnya.
Tanpa ragu, ia turun dan langsung menghampiri Nenek Asih sambil membawa paket sembako. Tidak hanya itu, ia juga memberikan bantuan secara pribadi sambil mengusap air mata sang nenek yang tak terbendung. Nenek Asih yang hidup sebatang kara hanya bisa menyampaikan kondisinya dengan suara pelan. Tangis harunya pecah saat menerima perhatian yang datang tanpa diduga. Di usia senja, momen sederhana itu menjadi bukti bahwa kepedulian sekecil apa pun bisa menghadirkan kehangatan yang begitu berarti.
(Steffy Gracia/dis)
Loading ...

6 hours ago
2

















































