Jakarta -
Drama yang awalnya dibuka sendiri oleh Clara Shinta kini justru berbalik arah. Alih-alih mendapat simpati penuh, ia malah menghadapi somasi bernilai fantastis dari sosok yang sempat ia bongkar ke publik.
Nama Clara Shinta sebelumnya ramai diperbincangkan usai mengungkap dugaan video call nakal yang melibatkan perempuan bernama Indah Rahmadani. Namun di tengah upayanya menenangkan diri dari polemik yang meluas, sebuah kejutan datang.
Ia mengaku menerima surat somasi dari pihak Indah-sesuatu yang sama sekali tidak ia duga sebelumnya.
"Pada saat saya menenangkan diri, mencoba mencerna semua ini, saya meng-update Instagram itu hanya sebagian kecil langkah untuk tetap saya melanjutkan hidup. Saya tidak mau terpuruk. Pada saat sore hari, saya mendapatkan surat somasi dari pihak Indah. Sebelumnya apakah ada langkah hukum yang saya ambil? Tidak, sebenarnya," kata Clara di Jakarta Selatan, Selasa (14/3).
Awalnya, Clara mengira tindakannya mengunggah dugaan video call tersebut sudah cukup menjadi hukuman sosial bagi pihak yang ia anggap terlibat. Namun realitas berkata lain. Alih-alih berhenti di sana, konflik justru semakin melebar ke ranah hukum.
"Saya menyadari bahwa saya manusia biasa. Yang saya lakukan dengan mempublikasikan tindak asusila ini, saya rasa sudah cukup untuk menjadi sanksi sosial dan hukuman yang sangat berat untuk saudari Indah," ujarnya.
Tak lama setelah itu, Clara menerima tuntutan yang membuat situasi semakin pelik. Indah disebut merasa dirugikan secara psikis dan profesional akibat unggahan tersebut, hingga melayangkan somasi dengan nilai yang tidak main-main.
"Tapi ternyata saya mendapatkan perlawanan dari saudari Indah. Saya mendapatkan surat somasi dengan permintaan penggantian ganti rugi atas psikisnya yang terganggu," bebernya.
Jumlah yang diminta dalam somasi tersebut juga terbilang bikin mencengangkan.
"Psikisnya dan terganggunya pekerjaan saudari Indah dengan nilai yang cukup fantastis, Rp10,7 miliar. Jadi di sini saya dituntut untuk mengganti rugi hal tersebut," lanjut Clara.
Meski mengakui bahwa unggahannya menjadi pemicu tuntutan tersebut, Clara menegaskan bahwa dirinya tidak akan bertindak sejauh itu jika tidak merasa ada pelanggaran yang terjadi lebih dulu.
"Saya menyadari adanya tindakan untuk mengganti rugi tersebut muncul karena tindakan saya mem-posting. Namun, saya juga tidak akan mem-posting sesuatu kalau tidak ada tindak kejahatan yang terjadi pada postingan sebelumnya. Saya tidak membutuhkan viral dengan kasus ini," jelasnya.
Di tengah tekanan yang datang bertubi-tubi, Clara memilih untuk menarik diri sementara dari berbagai aktivitas profesional. Ia mengaku ingin fokus menghadapi situasi yang sedang dihadapinya.
"Saya berempati terhadap diri saya untuk tidak mengambil kerja sama apa pun dengan timing yang masih berdekatan dengan kasus ini, kecuali tanggung jawab pekerjaan sebelumnya," katanya.
Di balik semua itu, ada sisi personal yang tak kalah berat. Sebagai seorang istri, Clara mengungkapkan perasaan yang mungkin dirasakan banyak perempuan dalam situasi serupa.
"Nggak ada satupun istri yang rela melihat suaminya menonton ada perempuan yang bertelanjang di depan dia. Dan saya menyadari kesalahan ini bukan hanya terjadi pada saudari Indah, itu juga terjadi pada suami saya," ungkapnya.
Kasus ini pun berkembang menjadi lebih kompleks dari sekadar viral di media sosial. Bukan hanya soal moral, tetapi juga berpotensi masuk ke ranah hukum yang serius.
Di balik geger video call tersebut, muncul satu realita yang tak bisa dihindari yakni di era digital, satu unggahan bisa menjadi bumerang dan konsekuensinya tak selalu bisa dikendalikan.
(ikh/ikh)
Loading ...

7 hours ago
2

















































