Jakarta -
Aktor Mark Ruffalo angkat suara soal rencana merger besar di industri hiburan yang tengah jadi sorotan. Ia menyampaikan kekhawatirannya dalam sidang yang dipimpin oleh Cory Booker, terkait rencana akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance.
Dalam pernyataannya, Ruffalo menilai penggabungan dua raksasa media ini bisa membawa dampak serius, tidak hanya bagi industri film dan televisi, tetapi juga terhadap kebebasan pers dan demokrasi.
"Kita tidak perlu menonton Citizen Kane atau membaca 1984 untuk memahami bahwa konsentrasi kekuasaan seperti ini adalah ancaman," ujarnya.
Selain soal kekuasaan media, Ruffalo juga menyoroti dampak ekonomi dari merger tersebut. Ia mengingatkan bahwa penggabungan perusahaan besar sering kali diikuti gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Menurutnya, ribuan bahkan puluhan ribu pekerja di industri kreatif berpotensi kehilangan pekerjaan jika merger ini benar-benar terjadi. Ia mencontohkan kasus sebelumnya pada 2025 yang disebut menyebabkan sekitar 2.000 orang terkena PHK.
Kondisi ini membuat Ruffalo khawatir skenario serupa akan terulang dalam skala yang jauh lebih besar.
Ruffalo juga menanggapi klaim pihak perusahaan yang menyebut merger ini akan membuka lebih banyak peluang bagi para kreator. Ia justru meragukan hal tersebut.
"Jangan percaya janji kosong dari miliarder yang digerakkan oleh keserakahan," tegasnya.
Menurutnya, perusahaan hasil merger justru akan terbebani utang besar, sehingga sulit benar-benar memberikan ruang lebih luas bagi kreator.
Merger yang nilainya mencapai sekitar Rp1.700 triliun ini masih menunggu persetujuan regulator dan pemegang saham. Jika disetujui, entitas gabungan tersebut akan menguasai berbagai lini bisnis besar, mulai dari studio film, platform streaming, hingga jaringan berita seperti CNN dan CBS News.
Kekhawatiran tidak hanya datang dari Ruffalo. Sejumlah pekerja kreatif, termasuk perwakilan serikat penulis, juga menilai merger ini bisa melahirkan 'raksasa media' yang terlalu kuat.
Mereka khawatir perusahaan tersebut nantinya bisa mengendalikan produksi konten, mempersempit persaingan, hingga memperburuk kondisi kerja di industri hiburan.
Hingga saat ini, rencana merger tersebut masih dalam tahap peninjauan oleh berbagai pihak, termasuk otoritas hukum di Amerika Serikat. Keputusan akhir belum ditetapkan, namun perdebatan sudah semakin memanas.
Bagi banyak orang di industri hiburan, hasil dari kesepakatan ini bisa menjadi penentu arah masa depan dunia film, televisi, dan media global.
(yoa/fik)
Loading ...

2 hours ago
2

















































